Keselamatan Anda dan Masa Depan Umat Fiqh Tahawwulat – Bahagian I

Ketika Allah memerintahkan iblis bersujud kepada Nabi Adam AS sebagaimana tertera dalam ayat al-Quran, dari sejak itulah dua tabiat dan seteru sejati dalam makhluk mulai muncul. Dan merupakan hal yang fitrah, setiap pihak pasti akan mencari dan memunculkan generasi-generasi baru untuk melanjutkan ajarannya tersebut baik ajaran kebaikan mhaupun jalan keburukan.

Hari ini dapat kita lihat jelas dari generasi kedua dari bangsa manusia, iaitu Habil dan Qabil dimana iblis menggoda Qabil untuk meneruskan keburukan yang ia bawa sehingga terjadilah pembunuhan antara saudara, Habil dengan motif rasa iri hati sebagaimana digambarkan dalam al-Quran. Dua seteru tersebut (kebaikan dan keburukan) akan terus berlanjut dan terus mencari generasi hingga akhir zaman nanti.

Allah SWT pun mengutus para utusan untuk menjelaskan kebaikan dan keburukan kepada manusia, termasuk kekasih kita, Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus kepada kita sebagai kaum akhir zaman, dengan memiliki misi yang sama dengan para utusan sebelumnya, iaitu menunjukkan jalan yang benar dan kebaikan, serta memperingatkan manusia dari jalan yang tidak benar dan keburukan.

Sebagai Nabi terakhir, tentunya tak akan ada lagi Nabi setelah beliau sebagaimana yang telah di tegaskan oleh beberapa ayat al-Quran dan hadis Rasulullah. Hal ini menuntut bahwa junjungan kita, Nabi Muhammad SAW pasti menjelaskan hal-hal kebaikan dan hal-hal keburukan yang akan terjadi sampai hari akhir baik secara global mahupun terperinci.

Dari sinilah ilmu Fiqh Tahawwulat disusun, pada dasarnya ilmu ini merupakan kumpulan dari berbagai teks al-Quran dan hadis yang berhubungan dengan perubahan dan fasa-fasa yang akan terjadi dalam sejarah kehidupan manusia secara umum, dan umat Nabi Muhammad secara khusus sehingga apa yang akan berlaku hingga hari Kiamat (eskatologi).

PENGERTIAN ILMU FIQH TAHAWWULAT / TRANSFORMASI

Habib Abu Bakar Al-Adni dalam kitabnya,An-Nubdzah Ash-Shughro menjelaskan bahwa definisi fiqh tahawwulat adalah sebagai berikut:

Pemahaman syari’at terhadap hal-hal yang telah, sedang dan akan terjadi dari perubahan dalam kehidupan manusia dan alam semesta, dan hal-hal baru dalam ilmu teori ataupun praktik, kebudayaan,kejadian dan fitnah di tahap-tahap kehidupan manusia secara umum dan kehidupan umat Nabi Muhammad secara khusus hingga hari kiamat, melalui teks-teks Qur’an dan hadits yang meneropong masa depan, mahupun teks-teks Qur’an dan hadits yang menunjukkan kejadian di masa lalu.

Daripengertian di atas dapat kita petik kesimpulan bahwa semua hal yang ada dalam ilmu fiqh tahawwulat ini sebenarnya ada dan tercantum dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, namun ilmu ini merupakan wadah yang mengumpulkan pecahan-pecahan teks-teks mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu ini.
Layaknya ilmu balaghoh yang pada dasarnya merupakan kumpulan dari teks-teks Al-Qur’an dan hadits beserta syair-syair danprosa-prosa Arab yang pada akhirnya diberikan istilah secara khusus seperti ilmu-ilmu yang lainnya.

Al-Habib Abu Bakar al-Adni juga menamakan ilmu ini sebagai fiqh akhir zaman, juga dikenali sebagai sunnatul mawaqif iaitu cara menyikapi dan berinteraksi dengan situasi dan keadaan yang berubah dalam sesuatu zaman berdasrkan Sunnah Rasulullah berinteraksi dengan kawan dan lawannya. Sebagai seorang da’i, sangat penting untuk memahami fiqh ini kerana kita hendak membawa manhaj yang sesuai dengan sesuatu tempat dan keadaan dalam cara yang hikmah dan bijaksana. Supaya da’i atau alim faham bagaimana untuk menyikapi pelbagai macam ideologi dan ragam masyarakat dan pelbagai mazhab pada zaman globalisasi ketika ini. Kefahaman ini akan mempengaruhi uslub dan pendekatan dakwahnya serta mempengaruhi fatwa yang keluar darinya.

Menurut Habib Abu Bakar ,dakwah mempunyai lughahnya tersendiri, maksud lughah disini ialah uslub dan pendekatan dakwah yang tertentu bergantung kepada kumpulan atau individu sasaran(target audience).Pada zaman ini,kita berhajat untuk memperbaharui lughah/uslub dakwah ini sesuai dengan kontemperori semasa. Pertama perlu difahami apakah poin yang hendak diambil dari al-Quran dan Sunnah untuk seseuatu isu kemudian kedua ialah pengambilan kira terhadap keadaan semasa.

Selain itu kita juga dapat memahami bahawa dalam ilmu fiqh tahawwulat ada dua macam teks dalam al-Quran dan hadis yang menjadi pembahasan. Pertama, teks-teks yang menembus dan membaca masa depan, dan yang kedua adalah teks-teks yang menjelaskan kejadian-kejadian di masa lampau yang berhubungan dengan ilmu tanda-tanda hari kiamat.

Yang perlu digariskan dari ilmu ini adalah,bahwa pembelajaran tanda-tanda hari kiamat dalam fiqh tahawwulat lebih menekankan kepada perumusan tanda-tanda tersebut menjadi sebuah kaedah dan pada akhirnya terbentuklah ilmu fiqh tahawwulat itu sendiri, tidak hanya mempelajari tanda-tanda hari kiamat dengan cara mengumpulkannya dari berbagai teks dan kemudian menjelaskannya.

Fiqh tahawwulat bermula dan bertitik tolak dari rukun agama yang keempat seperti yang disebutkan dalam hadis Jibril.

EMPAT RUKUN AGAMA

Islam adalah agama terakhir dan Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan al-Quran adalah kitab suci samawi terakhir. Hal tersebut menunjukkan bahwa agama Islam, Nabi Muhammad dan al-Quran pasti memiliki jawapan terhadap semua hal yang ada dan akan ada atau terjadi dalam kehidupan makhluk hidup kerana Allah telah berfirman: “Hari ini Aku telah sempurnakan agama untuk kamu…”

Ulama-ulama salaf dan para pendahulu banyak yang memiliki pendapat dan beranggapan bahwa rukun agama ada tiga, yaitu iman, Islam dan ihsan. Iman dalam bidang keyakinan, Islam di bidang pekerjaan zohir dan ihsan dalam bidang suluk dan akhlaq. Namun perlu disedari bahwa tak semua ulama mengatakan demikian. Buktinya, di dalam Sahih Bukhari dapat kita baca bahwa Imam Bukhari – dalam memberikan judul terhadap hadits Jibril yang dijadikan salah satu landasan dari ilmu ini – mengatakan “Bab pertanyaan Jibril as.Kepada Nabi Muhammad SAW tentang iman, Islam, ihsan dan ilmu hari kiamat, dan penjelasan Nabi mengenai hal itu, kemudian perkataan Nabi Muhammad SAW: Jibril as datang mengajarkan kalian tentang agama kalian, maka Nabi Muhammad menjadikan semuanya itu (empat hal yang disebutkan) sebagai agama.”

Bersambung…

Penulis Asal: Ustaz Syaiful Arif.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*